Disfungsi ereksi akibat faktor psikologis

Disfungsi ereksi akibat faktor psikologis. Foto: shutterstock.com

Ereksi penis bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba seperti melihat cewek seksi penis langsung tegang. Tidak seperti itu, mungkin terlihat otomatis tapi sesungguhnya dibalik itu semua banyak faktor dan sistem yang ikut terlibat ketika penis mengalami ereksi.

Beberapa kasus penis bisa gagal ereksi karena adanya masalah dengan kesehatan fisik yang mungkin sedang tidak fit atau bisa juga karena faktor situasional yang tidak memungkinkan penis ereksi. Hal lain yang menyebabkan disfungsi ereksi adalah faktor psikologis.

Mekanisme terjadinya ereksi bisa dijelaskan dengan singkat sebagai berikut. Pertama-tama pria menerima rangsangan seksual baik itu yang bersifat fisik maupun mental, rangsangan ini menimbulkan keinginan bercinta.

Rangsangan fisik adalah rangsangan seksual dari lawan jenis seperti rabaan, ciuman atau pelukan. Sementara rangsangan mental adalah pikiran atau khayalan yang berada dalam imajinasi. Baik rangsangan fisik maupun mentap dapat menimbulkan keinginan pria untuk bercinta.

Stimulasi Seksual yang Diinginkan

Jika stimulasi seksual yang berlangsung tersebut diinginkan atau tidak ditolak oleh otak maka impuls tersebut akan diteruskan ke bagian otak yang bernama Hipotalamus. Dari hipotalamus, rangsangan akan diteruskan ke organ-organ seks melalui sistem syaraf parasimpatis. Pada saat itu aliran darah akan mengalir dengan lancar menuju penis dan menyebabkan penis ereksi dengan keras.

Secara psikologis, perlu ada perasaan menginginkan rangsangan seksual yang ada. Bila terjadi hambatan psikis seperti teringat larangan orang tua, takut pasangan hamil atau takut tertular penyakit maka otak tidak akan mengirim impuls rangsangan tersebut ke hipotalamus dan seterusnya sehingga penis tidak akan ereksi meskipun saat itu ada rangsangan seksual yang kuat.

Terkadang juga penis awalnya dapat ereksi dengan keras, artinya otak sesungguhnya menerima impuls tersebut dan meneruskannya ke organ seks. Sayangnya di tengah percintaan, tiba-tiba suami terpikir sesuatu yang membuat impuls terputus akibatnya aliran darah terhenti dan penis menjadi loyo.

Kasus lain adalah seorang suami yang bisa mengalami ereksi keras ketika berhubungan dengan istri tapi ketika mencoba berhubungan dengan wanita lain malah penis tidak bisa tegang alias gagal ereksi. Hal tersebut adalah akibat faktor psikis akibat otak yang merasa tidak nyaman, takut tertular penyakit atau takut ketahuan istri.

Atau kasus yang hampir mirip, seorang suami yang awalnya bisa terangsang, mendapatkan ereksi yang keras dan bisa melakukan seks penetratif dengan istri. Tapi tiba-tiba suami mengingat pernah mencurigai istri selingkuh dengan pria lain. Sistem di otak bergerak jauh lebih cepat dari yang dirasakan oleh suami. Sebelum suami menyadari apa yang terjadi, ereksinya menjadi lembek dan semakin lembek dan akhirnya total berhenti ereksi.

Dalam situasi tersebut, suami sangat jarang menceritakan perasaannya karena terkadang dia sendiri tidak paham apa yang sedang terjadi. Di sisi lain istri yang tidak memahami aspek psikis suami kadang menuntut atau marah menyebabkan situasi semakin memburuk. Dan kondisi gagal ereksi atau disfungsi ereksi akibat faktor psikologis ini akan terus berulang di kesempatan berikutnya.

Pada umumnya, disfungsi ereksi karena faktor psikologis terjadi pada pria berusia muda atau remaja. Pada usia tersebut sangat jarang terjadi ereksi gagal karena faktor kesehatan atau situasional. Saat remaja pikiran masih labil dan gampang terpengaruh suasana. Takut, cemas dan tidak berpengalaman mengakibatkan penis tidak bisa ereksi dengan keras atau kalaupun hubungan seks bisa dilakukan biasanya yang terjadi adalah ejakulasi yang terlalu cepat.

Faktor psikologis sangat mempengaruhi kondisi fisik manusia termasuk kekuatan ereksi penis. Kondisi psikis harus stabil agar ereksi bisa keras. Perasaan marah, kecewa, stres dan depresi akan mengganggu pengiriman impuls seksual ke hipotalamus. Itulah sebabnya mengapa banyak dokter dan terapis yang menyarankan pasiennya selalu berpikir positif, sebab pikiran negatif akan membuat kondisi psikis semakin terganggu.

Dan semakin cepat penderitan melakukan tindakan untuk menyembuhkan masalah disfungsi ereksi yang diderita maka akan semakin cepat pula kondisi ereksi kembali pulih. Apalagi mengatasi disfungsi ereksi akibat faktor psikologis terkadang tidak membutuhkan sesi pengobatan yang lama asalkan penderita disfungsi ereksi cepat dan tidak malu berobat ke terapis.

Kesimpulannya adalah, stimulasi seksual akan membuat penis ereksi hanya jika otak menerima dan meneruskan rangsangan tersebut ke syaraf hipotalamus. Jika terjadi gangguan selama proses tersebut maka kemungkinan besar penis akan gagal ereksi atau disebut disfungsi ereksi.

***
Bagaimana anda dapat bertahan 30-60 menit lebih lama di ranjang dan secara Permanen Menyembuhkan Ejakulasi Dini.. Klik disini!
loading...