Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Ovarium

Di samping kanker serviks dan kanker rahim, salah satu kanker yang banyak terjadi pada seorang wanita adalah kanker ovarium. Semua wanita yang memiliki faktor risiko tinggi perlu memperhatikan dengan baik penyebab kanker ovarium dan berusaha semaksimal mungkin menghindarinya.

Jumlah penyandang kanker ovarium memang tidak sebanyak jumlah penderita penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi.

Namun, kasus keganasan pada ovarium menempati urutan ke-5 sebagai penyebab kematian akibat kanker paling banyak. Selain itu, diperkirakan kanker ovarium mencakup sekitar 4% dari seluruh keganasan pada wanita.




Walaupun penderita kanker ovarium tak sebanyak dua jenis kanker lainnya, namun menurut sebuah jurnal ilmiah, kanker ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi dari kasus keganasan pada alat genital perempuan.

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Penelitian terhadap faktor-faktor risiko dan faktor yang dapat menyebabkan kanker ovarium terus dilakukan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker ovarium merupakan kanker ke-empat yang paling sering ditemukan pada wanita di seluruh dunia setelah kanker serviks, payudara, kolorektal, dan korpus uteri.

Sedangkan, khusus di negara kita sendiri–Indonesia, kanker ovarium menempati urutan ke-6 dari keganasan pada wanita setelah karsinoma serviks, kanker payudara, kolorektal, kulit dan limfoma.

Terlepas bahaya yang dijumpai pada penyakit ini, letak ovarium yang jauh di dalam rongga panggul dan gejala awal yang sulit untuk dibedakan dengan penyakit lainnya menyebabkan deteksi dini sulit dilakukan.

Rasa tidak nyaman pada perut merupakan keluhan utama pada stadium awal penyakit, yang banyak disalahartikan oleh pasien sebagai sakit perut atau gangguan pencernaan.

Akibatnya, diagnosis dan pengobatan seringkali tertunda. Alhasil, kemungkinan untuk sembuh semakin rendah dan bahkan risiko kematian pun bisa di depan mata tatkala terdiagnosis kanker ovarium pada stadium lanjut.

Karena kanker ovarium begitu berbahaya, maka ada baiknya kita mengetahui sebenarnya apa penyebab atau pun faktor risiko terjadinya penyakit ini.

Hal ini bertujuan supaya Anda maupun keluarga dan rekan terdekat Anda bisa terhindar dari kanker ovarium yang begitu bahaya.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Ovarium

Kanker ovarium sangat mirip dengan berbagai kasus keganasan kanker lainnya dimana penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti.

Meski demikian para ahli mengetahui beberapa faktor risiko kanker ovarium yang membuat seseorang lebih berpotensi mengalami penyakit ini dibandingkan orang lain.

Penyebab kanker ovarium wanita

Penyebab kanker ovarium wanita

Berikut ini beberapa penyebab dan faktor risiko kanker ovarium:

1. Faktor Usia

Pengaruh umur adalah salah satu faktor risiko kanker ovarium pada wanita. Wanita yang mengalami menstruasi terlalu dini dan wanita lanjut usia lebih berisiko mengalami kanker indung telur.

  • Haid pertama (Menarke) terlalu dini

Wanita yang mengalami menstruasi atau haid disebut dengan istilah menarke. Normalnya menarke pertama kali terjadi pada wanita berusia 11-14 tahun.

Jika seorang wanita mengalami haid pertama ketika masih berusia di bawah 11 tahun, maka disebut dia mengalami menarke dini.

Menarke dini adalah salah satu penyebab kanker ovarium pada wanita. Tingginya risiko kanker ovarium pada wanita dengan usia menarke yang terlalu dini disebabkan oleh karena lamanya paparan dari hormon estrogen yang diterima.

Estrogen ini sendiri terdiri atas 3 jenis hormon yaitu :

  • Estradiol,
  • Estriol, dan
  • Estrion

Beberapa penelitian mengatakan bahwa estradiol dan estriol diduga memiliki sifat karsinogenik alias memicu terjadinya perubahan sel normal menjadi sel ganas.

Hal ini, dimungkinkan karena kedua hormon ini berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan ovarium.

  • Sudah lanjut usia

Menurut berbagai pengamatan dalam jurnal ilmiah, kanker ovarium umumnya dijumpai pada wanita usia yang lebih tua atau usia pasca menopause.

Kanker ovarium sangat jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun. Angka kejadian kanker ini meningkat dengan makin tuanya usia.

Dengan meningkatnya usia kemungkinan keganasan akan meningkat pula. Secara umum akan terjadi peningkatan risiko keganasan mencapai 13% pada premenopause dan 45% setelah menopause.

Meskipun belum sapat dijelaskan secara pasti mengapa pertambahan usia sejalan dengan meningkatnya risiko terkena kanker ovarium, namun banyaknya hasil pengamatan menjadi bukti saat ini bahwa kanker dapat dipengaruhi oleh pertambahan usia.

Oleh karena itu, wanita yang sudah menopause wajib menjalani pemeriksaan ginekologi secara berkala untuk melakukan deteksi kanker ovarium secara dini.

2. Faktor Reproduksi

Segala gangguan pada organ reproduksi wanita dapat meningkatkan risiko kanker ovarium dan jenis kanker lainnya.

  1. Infertil (tidak subur)

Infertilitas adalah kondisi dimana pasutri tidak kunjung mendapat keturunan meskipun aktif secara seksual tanpa alat kontrasepsi.

Kanker ovarium sering dihubungkan dengan wanita dengan angka melahirkan yang rendah dan tidak subur. Hal ini berkaitan dengan proses ovulasi dalam ovarium.

Menurut penelitian Johari & Siregar, wanita yang tidak memiliki anak (nullipara), tidak pernah hamil atau tidak pernah melahirkan, memiliki faktor risiko kanker ovarium yang cukup tinggi.

Hal ini dikarenakan, terdapatnya hubungan dengan teori incessant ovulation, yang mana disebutkan dengan tidak pernahnya mengalami kehamilan ataupun melahirkan, maka proses ovulasi yang selalu terjadi setiap bulannya tidak pernah dihambat.

Akibatnya terjadi kerusakan pada epitel dan terus berlangsung, menyebabkan terjadinya iritasi kronis pada ovarium, dan sel-sel dapat bertransformasi menjadi sel-sel neoplastik, yakni jenis sel baru yang berbeda dengan kondisi normal. Nantinya, sel neoplastik ini dapat berkembang menjadi kanker ovarium

Pada lapisan korteks yang merupakan lapisan terluar ovarium, disana bakal sel telur (gamet) mengalami perkembangan untuk menjadi matang dan siap dilepaskan ke rahim yang terjadi setiap bulannya.

Teorinya, perubahan epitel korteks secara terus menerus untuk mematangkan gamet dapat memicu terjadinya mutasi spontan yang pada akhirnya menimbulkan kanker pada ovarium.

Pada wanita hamil, proses ini terhenti selama ± 9 bulan sehingga resiko kanker semakin turun. Berdasarkan penelitian yang ada, ditemukan bahwa peningkatan jumlah kehamilan dapat menurunkan risiko terjadinya kanker ovarium.

Sementara itu, kehamilan aterm (janin cukup bulan sekitar 38 minggu) memiliki efek proteksi alias melindungi seorang wanita agar terhindar dari kejadian kanker ovarium

  • Abortus berulang

Selain infertil, salah satu penyebab kanker ovarium pada wanita adalah pernah mengalami abortus spontan (aborsi) secara berulang.

Di Amerika Serikat, angka kejadiannya sebesar 6-7/100.000 dimana kejadian kanker ovarium pada wanita kulit hitam dan putih hampir sebanding.

  • Menyusui

Laktasi ataupun riwayat menyusui, merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan risiko terjadinya kanker ovarium.

Pada masa laktasi, kadar estrogen dan hormon gonadotropin akan menurun dan kembali meningkat bila frekuensi menyusui berkurang.

Dengan penurunan estrogen, akan mengakibatkan delayed ovulation dan si wanita tidak akan mengalami menstruasi pada waktu yang cukup lama.

Teori itu sesuai dengan hasil hasil penelitian yang didapat Ferris dkk pada tahun 2014 silam, yang mana pasien kanker ovarium yang tidak menyusui lebih tinggi jumlahnya dibandingkan pasien yang menyusui.

Persentase jumlah pasien yang tidak menyusui tersebut sebesar 51,4%.

3. Faktor Riwayat Keluarga dan Mutasi Gen

Faktor risiko kanker ovarium wanita

Faktor risiko kanker ovarium wanita

Sebuah contoh agar Anda mudah memahaminya adalah kisah artis hollywood ternama, yakni Angelina Jolie. Sudah dua tingkat keluarga di atasnya, yakni sang nenek dan juga ibunda Angelina, mengidap kanker ovarium.

Para dokter pun mengatakan bahwa berdasarkan hasil berbagai pemeriksaan menunjukkan bahwa keluarganya berpotensi mengalami mutasi atau kelainan gen.

Riwayat keluarga dan juga mutasi gen tersebut saling berkaitan satu sama lain. Karena mutasi gen yang berpotensi untuk menyebabkan Angelina menderita kanker seperti keluarganya, maka ia pun memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan ovarium sekaligus payudara.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fachvley pada tahun 2012, riwayat keluarga yang menderita kanker ovarium menyebabkan terjadinya mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2.

Kerusakan kedua gen ini menyebabkan kerusakan gen di dalam sel menjadi tidak terdeteksi dan sel yang bermutasi tidak dapat diperbaiki sehingga muncul sel yang ganas yang berkembang menjadi kanker.

Hasil penelitian mereka pun juga memperoleh 70,6% (48/68) pasien kanker ovarium memiliki keluarga dengan riwayat menderita penyakit yang sama.

4. Riwayat Penyakit pada Organ Reproduksi

Memang tidak banyak teori yang menjelaskan mengenai penyakit organ reproduksi yang terkait kanker ovarium, namun berdasarkan referensi ilmiah yabg ditulis oleh Ozols dkk., dinyatakan bahwa endometriosis, PID, dan Polycystic ovarian syndrome memiliki peranan dalam peningkatan risiko terjadinya kanker ovarium.

  • Endometriosis

Merupakan suatu keadaan dimana jaringan endometrium (lapisan terdalam uterus atau rahim) yang masih berfungsi dengan baik berada di luar organ uterus itu sendiri. Misalnya, toba-tiba dijumpai sel utarus pada sel indung telur (ovarium).

  • Pelvic Inflammatory Disease (PID)

Merupakan infeksi yang terjadi pada alat genital atas.

  • Polycystic Ovarian Syndrome

Merupakan masalah endokrinologi reproduktif yang cukup sering terjadi. Belakangan ini diketahui bahwa wanita dengan siklus haid yang reguler dengan keadaan hiperandrogen (kelebihan hormon androgen) juga dapat disebut sindroma ovarium polikistik.

5. Mendapat Hormon Tambahan

  • Kontrasepsi oral

Penggunaan pil kontrasepsi jangka panjang, menurunkan risiko kanker ovarium. Menurut Ozols dkk., 30%-60% pada penggunaan oral kontrasepsi berdasarkan penelitian yang ada dapat menurunkan risiko terjadinya kanker ovarium. Risiko ini dapat menurun pada penggunaan yang lama.

Kontrasepsi oral memiliki kerja dengan menekan sekresi FSH sehinga dapat menghalangi maturasi folikel pada ovarium dan menyebabkan ovulasi menjadi terganggu.

  • Obat penyubur

Penggunaan obat penyubur adalah salah satu penyebab kanker ovarium yang jarang diketahui. Obat penyubur dapat menyebabkan terjadinya peningkatan ovulasi, sehingga terjadi kenaikan kadar hormon gonadotropin (FSH/LH).

Hal ini berkebalikan dengan pil kontrasepsi tadi yang mana dapat menyebabkan semakin tingginya faktor risiko terjadinya kanker ovarium.

  • Terapi hormon pengganti

Maksud terapi ini adalah pemberian hormon esterogen maupun progesteron buatan atau sintetik. Terapi ini seringkali diberikan pada wanita yang sudah menopause.




Penggunaan hormon pengganti ini akan meningkatkan gonadotropin yang dapat menyebabkan kanker ovarium.

6. Faktor lingkungan

Dari penelitian diketahui peningkatan kejadian kanker ovarium berlangsung di daerah industrialisasi seperti di negara barat.

Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa obesitas dapat meningkatkan faktor risiko kanker ovarium. Selain itu, faktor risiko juga meningkat pada konsumsi kopi, tembakau, dan alkohol.

Dalam penelitian Fachlevy, disebutkan bahwa tingginya konsumsi kolesterol dapat memengaruhi kadar estrogen dalam tubuh.

Semakin tinggi konsumsi, maka semakin tinggi pula kadar estrogennya. Mekanisme perubahan kolesterol menjadi estrogen dapat dijelaskan melalui cara biosintesis hormon, dimana semua hormon steroid (estrogen) berasal dari kolesterol.

Demikian beberapa penyebab dan faktor risiko kanker ovarium. Semoga Anda bisa memetik hal-hal apa saja yang bisa dihindari untuk mencegah terjadinya kanker ovarium pada diri Anda maupun orang di sekeliling Anda.

***
Bagaimana Menyembuhkan Ejakulasi Dini Secara Permanen, dan Membuat Anda TAHAN LAMA di Ranjang. Ingin tahu caranya? Klik disini!

Loading...
Tags:

Leave a Reply