Cara Mendiagnosis Kanker Ovarium pada Wanita

Mendiagnosa kanker ovarium adalah salah satu langkah penting yang perlu dilakukan dokter sebelum masuk ke tahap pengobatan. Diagnosa dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

Salah satu keganasan ginekologi yang marak ditemukan sekaligus merupakan kasus di bidang ginekologi yang paling mematikan adalah kanker ovarium.

Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi terbanyak kedua. Persentase penyakit bisa mencapai sebesar 3% dari seluruh kanker pada wanita di Amerika Serikat. Sementara di Indonesia, kanker ovarium menempati urutan ke empat dengan angka kejadian 15 kasus per 100.000 wanita.




Hanya sedikit kasus yang menunjukkan gejala kanker ovarium secara spesifik, maka sekitar 70% kasus kanker ovarium saat terdiagnosis sudah berada pada stadium lanjut, hal ini berdampak pada tingginya angka mortalitas atau kematian dari kanker ovarium.

Di artikel sehatki.com kali ini kita akan membahas beberapa tahapan mendiagnosa kanker ovarium setelah dokter mengetahui gejala-gejala yang dirasakan pasien.

Penjelasan Singkat Kanker Ovarium

Dalam dunia kedokteran, penilaian seseorang yang menderita kanker berdasarkan kondisi dan pengobatannya menggunakan istilah survival rate (angka keberhasilan hidup).

Angka keberhasilan hidup penderita kanker ovarium dalam jangka waktu 5 atau 10 tahun yaitu:

  • Pada stadium lanjut, angka 5-years survival rate dibawah 30%.
  • Sebaliknya, jika terdiagnosis pada stadium awal, 5-years survival rate meningkat drastis yakni sebesar 90%.

Pertumbuhan tumor ovarium, baik yang jinak maupun yang ganas, tentu dapat menimbulkan gejala.

Tumor jinak ovarium yang memiliki diameter kecil seringkali ditemukan secara kebetulan dan tidak memberi gejala klinis yang berarti.

Karena gejala klinis yang terjadi biasanya tidak terlihat jelas, sampai penyakit berada pada tahap stadium lanjut. Hal inilah yang menyebabkan penyakit ini disebut “silent killer”.

Secara umum, tumor yang ganas memiliki karakteristik solid, nodular dan terfiksir. Namun, ukuran tumor tidak sesuai dengan derajat keganasan, artinya belum tentu semakin besar tumor, berarti semakin ganas pula.

Cara mendiagnosa kanker ovarium

Cara mendiagnosa kanker ovarium

Berikut ini beberapa gejala kanker ovarium:

  • Pembesaran perut atau dikenal dengan istilah asing, yaitu bloating,
  • Nyeri di perut atau panggul,
  • Sering kencing alias terus menerus ingin buang air kecil,
  • Menurunnya nafsu makan, atau
  • Rasa penuh di lambung.

Hanya berdasarkan gejala-gejala sederhana di atas, tentu saja tidak cukup untuk mendiagnosa kanker ovarium.

Terlebih lagi sebagaimana telah disebutkan bahwa gejala-gejala kanker ovarium tidaklah spesifik, yang mana seseorang dengan penyakit lain pun bisa juga memiliki keluhan serupa.

Selanjutnya, untuk mendiagnosa kanker ovarium, khususnya bagi sang dokter, perlu ada tanya jawab yang lebih kompleks dan detail. Misalnya, selain keluhan, dokter perlu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan risiko kanker ovarium, antara lain

  1. Bagaimana kesehariannya selama ini; pekerjaan, gaya hidup, dan pola makan.
  2. Apakah keluarganya pernah mengalami hal yang sama,
  3. Status perkawinan dan jumlah anaknya,
  4. Riwayat penyakit yang pernah diderita jika memang ada,
  5. Riwayat obat-obatan yang pernah dikonsumsi kalau ada, dan sebagainya.

Pokoknya dokter perlu mengajukan segala bentuk pertanyaan 5W+1H (What, where, when, why, who, dan how) terkait dengan kanker ovarium.

Pasien pun wajib menjawab dengan sejujur-jujurnya dan menceritakan detail mengenai penyakit yang diderita.

Anda perlu mengetahui bahwa hanya berdasarkan tanya jawab atau anamnesis, diagnosis segala penyakit, termasuk kanker ovarium, bisa terarahkan hingga 70%.

Bagaimana Mendiagnosa Kanker Ovarium (Indung Telur)

Selanjutnya, berbagai pemeriksaan yang dilakukan merupakan informasi tambahan untuk menegakkan diagnosis secara pasti, apakah memang kanker ovarium atau justru penyakit lain.

Dalam mendiagnosis kanker ovarium, sebelum menjalani pemeriksaan dengan alat-alat berteknologi canggih, pemeriksaan fisik wajib dilakukan lebih dahulu. Pemeriksaan fisik ini mencakup :

1. Palpasi atau Perabaan

Melakukannya palpasi terutama di daerah perut untuk meraba tumor dan menentukan karakteristik tumornya:

  • Teraba tumor di perut, bentuk kistik atau padat,
  • Terfiksir (menetap) atau bergerak,
  • Terasa nyeri atau tidak.

2. Periksa Dalam

Periksa dalam adalah salah satu cara umum dalam mendiagnosa kanker ovarium pada wanita.

Caranya yaitu dengan memasukkan jari melalui lubang vagina. Tentu saja pemeriksaan ini hanya boleh dilakukan pada wanita yang sudah menikah. Pemeriksaan ini serupa ketika dokter atau bidan memeriksa ibu hamil yang akan segera melahirkan.

Jika Anda pernah hamil, maka Anda paham betul bagaimana pemeriksaan ini. Sementara, bagi mereka yang masih virgin alias belum menikah, akan menjalani pemeriksaan berbeda.

Jangan berpikir bahwa pemeriksaan ini aneh tanpa mengetahui apa tujuannya. Periksa dalam ini untuk menilai :

  1. Letak tumor; apakah melekat ke rahim atau uterus,
  2. Menetukan pergerakkan dan konsistensi tumor.

3. Pemeriksaan dengan Menggunakan Spekulum

Spekulum vagina

Spekulum vagina

Spekulum adalah alat untuk menyangga lubang vagina agar lebih lebar supaya memudahkan pemeriksa, dalam hal ini dokter maupun tenaga medis lain yang berkaitan, untuk melakukan pengamatan ke organ-organ genital bagian dalam.

Jika Anda ingin mengetahui bentuk pasti spekulum bagaimana, Anda bisa mencari di Internet.

Tujuan pemeriksaan ini antara lain :

  1. Melihat serviks sekaligus untuk melakukan biopsi ataupun pap smear,
  2. Melakukan sondese, untuk membedakan antara mioma uteri dan tumor ovarium, yang jinak maupun ganas.

4. Periksa Rektal

Cara melakukan pemeriksaan ini mirip dengan periksa dalam. Namun, bedanya periksa rektal dengan memasukkan jari ke lubang anus, bukan vagina. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengonfirmasi massa atau tumor yang letaknya di ovarium.

Usai menjalani pemeriksaan fisik secara lengkap, maka barulah lanjut ke pemeriksaan penunjang dengan menggunakan berbagai alat pemeriksaan.

Sekalipun ada banyak jenis pemeriksaan, namun bukan berarti pasien kanker ovarium perlu menjalani semua pemeriksaan yang ada.

Pasien hanya akan menjalani pemeriksaan ketika memang ada indikasi supaya mendukung data yang ada berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Diagnosa Tambahan Kanker Ovarium

Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk diagnosis kanker ovarium untuk mendiagnosa kanker ovarium. Di tahap ini dokter biasanya sudah dapat mengetahui jenis kanker ovarium yang diderita pasien.

  1. Laboratorium

Banyak informasi yang didapatkan melalui pemeriksaan laboratorium. Evaluasi untuk kecurigaan kanker ovarium meliputi :

  • Pemeriksaan darah lengkap dan hitung jenis,
  • Kimia darah,
  • Urinalisis,
  • Sitologi serviks dan vagina,
  • Persiapan sebelum menjalanj pemeriksaan radiologi dada dan perut, pielografi intravena, barium enema. Persiapan tersebut berupa : uji fungsi hati, profil koagulasi, dan pemeriksaan gastrointestinal serial.
  • Penanda tumor berupa Ca-125 atau CEA.
  1. Ultrasonografi (USG)

Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang dalam diagnosis suatu tumor ganas atau jinak. Pada keganasan alias kanker ovarium, akan memberikan gambaran dengan septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites.

Walaupun ada pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT-Scan, MRI, dan positron tomografi akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian tidak menunjukan bahwa pemeriksaan yang lebih canggi itu juatru lebih baik dari ultrasonografi.

  1. Computed Tomography Scanning (CT-Scan)

Melalui pemeriksaan ini dapat diketahui:

  • Ukuran kanker primer,
  • Sekaligus apakah sel kanker telah menyebar atau metastasis ke hepar dan kelenjar getah bening, asites, dan penyebaran ke dinding perut.

Namun, terdapat beberapa kekurangan dari CT-Scan, yaitu terdapatnya risiko radiasi, reaksi alergi terhadap kontras, kurang tegas dalam membedakan tumor kistik dan padat, dan biaya yang mahal.




  1. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI dan CT-Scan memiliki fungsi yang hampir sama, namun MRI tidak lebih baik untuk digunakan dalam hal diagnostik, meggambarkan perjalanan penyakit, dan dalam menentukan lokasi tumor di abdomen atau pelvis.

Dengan demikian, dalam melakukan evaluasi kanker ovarium lebih dianjurkan dengan pemeriksaan CT-Scan.

  1. Laparoskopi

Pemeriksaan ini membantu deteksi dini kanker ovarium. Fungsinya adalah sebagai pemasti dari diagnostik yang masih belum pasti.

Ketika pemeriksaan USG dan CA 125 yang masih mencurigakan keganasan dan hasil pemeriksaan sitologi yang masih belum dalam menentukan penyebabnya, dapat dilakukan laparoskopi untuk lebih memastikannya.

Meski diagnosa berhasil ditegakkan, penyebab kanker ovarium secara pasti masih misteri. Dokter mungkin dapat memperkirakan faktor yang menyebabkan pasien mengalami penyakit ini tapi penyebab pasti sulit diketahui.

Demikian pembahasan kali ini mengenai segala hal yang berkaitan dengan cara mendiagnosa kanker ovarium melalui website sehatki.com. Semoga artikel ini memberi manfaat untuk Anda.

***
Bagaimana Menyembuhkan Ejakulasi Dini Secara Permanen, dan Membuat Anda TAHAN LAMA di Ranjang. Ingin tahu caranya? Klik disini!

Loading...

Leave a Reply