Bagaimana Faktor Psikologis Menyebabkan Impotensi pada Pria

Impotensi adalah ketidakmampuan penis mengalami ereksi yang cukup keras untuk berhubungan intim. Salah satu faktor penyebab impotensi adalah faktor psikologis.

Segala jenis pikiran negatif seperti kecemasan, stres, depresi, ketakutan dan lain-lain yang mempengaruhi kondisi kejiwaan adalah faktor psikologis penyebab impotensi pada pria.

Adapun penyebab utamanya ada dua yaitu faktor fisik dan psikologis, atau kombinasi keduanya yang meliputi :

  • Psikis (stres),
  • Obat (misalnya golongan diuretik untuk antihipertensi seperti hidroklorotiazid karena dapat menghambat aliran darah ke penis),
  • Hormonal (kekurangan hormon testosteron sehingga mangalami penurunan libido),
  • Komplikasi penyakit (diabetes mellitus, hipertensi), dan
  • Pola hidup tidak sehat (merokok, alkohol).

Dahulu gangguan psikis disebut sebagai penyebab utama impotensi. Seiring berjalannya waktu, muncul banyak literatur ilmiah yang menyebut bahwa masalah fisik juga dapat menyebabkan pria mengalami gagal ereksi.

Para ahli menyebut faktor psikologis bertanggung jawab terhadap 10% -20% dari semua kasus impotensi yang ada, dimana pada umumnya kasus impotensi karena masalah psikologis diderita oleh pria berusia muda.

Tapi dalam beberapa kasus yang lebih sedikit, efek psikologis dari impotensi berasal dari pengalaman seksual yang buruk di masa lalu atau trauma seksual.

Masalah psikologis penyebab impotensi

Masalah psikologis penyebab impotensi

Penjelasan lebih lanjut mengenai dua faktor penyebab impotensi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Faktor psikologis

Faktor ini disebabkan oleh stres, depresi, kecemasan, perasaan bersalah, takut keintiman dan kebimbangan tentang jenis kelamin.

  1. Faktor fisik

Sementara faktor fisik mencakup lingkup yang lebih luas daripada faktor sebelumnya:

  • Gangguan atau penyakit yang berkaitan dengan hormon, pembuluh darah dan saraf (misalnya, defisiensi testosteron akibatsuhu panas, gangguan fungsi hati, gangguan kelenjar tiroid, diabetes mellitus, kolesterol tinggi, hipertensi, hipotensi,  penyakit jantung, penyakit ginjal dan obesitas),
  • Gaya hidup tidak sehat (misalnya, merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol berlebihan, penyalahgunaan obat dan kurang tidur),
  • Efek samping obat (misalnya, obat anti hipertensi, obat anti depresi, obat penenang dan obat tidur secara berlebihan atau dalam jangka panjang), dan
  • operasi yang potensial merusak saraf di panggul atau daerah sekitar penis.

Walaupun komponen dalam faktor psikologis tidak begitu luas, tetapi berbagai penelitian telah membuktikan secara ilmiah bahwa kondisi psikologis yang terganggu dapat menyebabkan impotensi.

Misalnya, pada penelitian yang sama dengan pembahasan sebelumnya, terdapat 61 di antara 255 responden pria disfungsi seksual, memiliki riwayat gangguan psikologik.

Keterkaitan gangguan psikologik terhadap fungsi seksual pria memang sudah kerap dibuktikan kebenarannya dalam berbagai penelitian ilmiah.

Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Wibowo di tahun 2013 lalu, di Kota Surakarta, Jawa Barat. Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara salah satu gangguan psikologik terhadap salah satu jenis disfungsi seksual pria yaitu impotensi pada 50 responden dalam penelitiannya.

Nah, sebenarnya bagaimana bisa psikologis memengaruhi fungsi ereksi penis? Lalu apa saja masalah psikologis hingga seseorang menderita impotensi?

Berikut ini pembahasan mengenai jenis masalah psikologis yanh dapat sebabkan impotensi atau disfungsi ereksi.

Menurut Farre JM, dkk. yang ditulis dalam jurnal ilmiah lainnya, menyebutkan bahwa terdapat dua jenis impotensi. Kedua jenis ini memiliki komponen psikogenik yang berperan dalam proses terjadinya impotensi.

Pembagian penyebab impotensi akibat faktor psikis adalah sebagai berikut:

  1. Psikogenik

Terdapat dua mekanisme penting yang berperan sebagai penyebab impotensii tipe psikogenik yaitu melalui gangguan psikologis yang dialami, terjadilah penghambatan langsung dari sumsum tulang belakang sakralis dan berlebihnya kinerja sistem saraf simpatis yang menyebabkan meningkatnya produksi dari katekolamin, yang menyebabkan otot polos kaverna penis relaksasi.

  1. Psikogenik-organik

Dua faktor tersebut bercampur dan saling menyertai bahkan juga memperburuk kondisi kesahatan, apalagi yang berkaitan dengan impotensi. Kelainan organik meliputi hal-hal yang telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya.

Lebih lanjut, faktor psikogenik ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu :.

  • Tipe general (Tidak mampu membangkitkan hasrat seksual secara menyeluruh)
  • Tipe situasional (Tidak bergairah dengan pasangan, performa seksual melemah akibat stress)

Gangguan psikologis dapat menyebabkan tubuh memberi respon berlebihan pada sistem saraf fight and flight. Sistem saraf tersebut nantinya menimbulkan dampak buruk pada fungsi kardiovaskular atau jantung dan pembuluh darah.

Masalah kardiovaskular kelak mempengaruhi aliran darah ke seluruh tubuh, khususnya suplai darah ke penis. Apalagi pembuluh darah ke organ tersebut terbilang berukuran lebih kecil dibandingkan pembuluh darah ke organ tubuh lainnya.

Maka, tak ayal ketika aliran darah ke penis terganggu, suplai darah ke sana semakin sedikit. Sementara, ereksi terjadi setelah kebutuhan darah dapat tercukupi oleh suplai yang diberikan.

Oleh karena itu, terjadilah impotensi yang bermula dari masalah psikologis yang kerap dianggap sebagai masalah sepele, namun semakin lama semakin mengganggu.

Impotensi yang bermula dari gangguan psikologis justru juga memperburuk kondisi psikis penderitanya. Hal itu dikarenakan pria merasa semakin tertekan tatkala perfoma seksualnya tidak prima.

Bahkan, pria mengalami stress dan cemas yang berlebihan jauh sebelum ia berhubungan intim dengan pasangannya. Tentunya ketidakmampuan memulai serta mempertahankan ereksi membuatnya stress dan cemas sehingga menjadi beban tambahan bagi gangguan psikologjs yang dialami.

Cemas kembali mengaktifasi sistem persarafan yang telah disebutkan hingga akan memperburuk kondisi aliran darah karena pembuluh darah makin konstriksi alias diameternya makin menyempit.

Bagaimanapun kondisi gangguan psikis sebagai penyebab impotensi, biasanya memiliki prognosis yang baik. Maksudnya, penderita disfungsi ereksi dengan stres maupun depresi, dapat segera terobati ketika mampu mengontrol pikirannya dengan baik, tanpa beban-beban negatif yang mengganggu.

Manajemen stres dan gangguan psikologis lainnya justru lebih ampuh untuk mengobati disfungsi ereksi, ketimbang medapat terapi dengan obat-obatan medis.

Berbicara mengenai hilangkan stres dan bentuk beban pikiran lainnya memang tak mudah untuk dilakukan dalam sekejap. Namun, tak ada salahnya mencoba secara perlahan.

Dalam situasi ini, anda harus berobat ke dokter, atau jika penyebab impotensi adalah psikologis maka penderita disarankan menemui psikiater atau terapis seksual. Salah satu pengobatan impotensi karena faktor psikis adalah dengan hipnosis.

Jauhi pikiran buruk, seperti malu dan merasa bersalah. Lebih lanjut, usahakanlah selesaikan segala perkara yang mengganggu kondisi psikis.

Tak lupa juga mencurahkan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya pada sang pujaan hati hingga akhirnya rangsangan seksual yang tercipta mampu membangkitkan gairah seks.

Pada awal proses, tak perlu memedulikan apakah fungsi seksual mampu melangsungkan perannya secara normal atau tidak. Mengulang-ulang rangkaian manajemen stres terhadap impotensi, cepat atau lambat mampu mengembalikan kemampuan penis ereksi sebagaimana mestinya.

Apakah Anda termasuk ke dalam kelompok penderita impotensi akibat faktor psikis? Maka, silahkan Anda lebih dahulu mengenali jenis-jenis masalah psikologis yang sebabkan disfungsi ereksi serta bagaimana proses terjadinya hingga langkah-langkah yang bisa Anda coba untuk menyelesaikan keluhan disfungsi ereksi yang diderita.

Jika memang Anda tak mampu menyelesaikannya bersama pasangan, tak ada salahnya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis disfungsi ereksi untuk mengetahui penyebabnya sekaligus secara pasti dan mendapat pengobatan yang sesuai. Semoga artikel ini bermanfaat.

Loading...

Leave a Reply